Islam dan Para NabiNya
1. Nabi
Adam as.
Terciptanya langit dan bumi.
Sebelum Allah Ta’ala menciptakan Adam sebagai manusia, Allah Jalla wa azza terlebih dahulu
menciptakan langit dan bumi serta seisinya, mitsal gunung,
lautan, segala macam tumbuh-tumbuhan dan aneka macam hewan,
bintang sebagai hiasan langit, matahari sebagai sumber panas, dan bulan sebagai penerang
diwaktu malam. Allah Ta’ala menjadikan
langit
dan bumi
serta seisinya itu hanya hitungan massa (hari).
Sebagaimana Allah Ta’ala mengatakan didalam Al-Qur’an :
“Inna rabba-kumullahul ladziy
khalaqas-samaawati wal-ardha fii sittati aiyyaamin tsumma astawaa ‘alal-‘arsyi
yurghsyil-laiylin nahaara yath-lubuhu, hha-tsi-tsan wasy-syamsa wal qamara wan-nuhujuma
musakh-kharatim-bi-amrihi. Alaa
lahul-khalqu wal amru, tabaa rakallahu rabbu al ‘aalamiyna”.
“Sesungguhnya
Tuhan kamu ialah Allah yang telah
menciptakan langit dan bumi dalam enam massa, lalu Dia (Allah) bersemayam di
“arasy” (diatas segalanya). Dia (Allah) menutupkan malam kepada siang yang
mengikutinya dengan dengan cepat , dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan,
dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah,
menciptakan dan memerintah hanyalah haq
Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”. (QS.
Al-A’raf. 54).
Dan sesungguhnya Allah
Maha Kuasa, apabila Dia menghendaki
atas sesuatu cukup mengatakan “Jadi” maka
terciptalah apa yang dekehendakinya. Dan juga patut bagi kita untuk
mengetahuinya, bahwa perhitungan satu hari atau massa disisi Allah Ta’ala bisa dikatakan lebih
kurang seribu hari.
Sebagaimana Allah Ta’ala mengatakan didalam Al-Qur’an :
“Wa inna yauman ‘inda rabbika ka-alfi
sanatinm-mimaa ta ‘udduwna”.
“Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti
seribu tahun dari tahun perhitunganmu”. (QS. Al-Hajj.
47).
“Ta’ rujul-malaaikatu warruu-hu ilaiyhi
fii yaumin kana miqdaa-ruhu, khamsiyna
alfa sanatin”.
“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada
Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima ribu tahun”. (QS. Al-Ma’aarij. 4)
Sesudah Allah Ta’ala
menciptakan langit dan bumi serta seisinya, barulah Allah, menciptakan makhluk yang bernama Malaikat. Makhluk Allah, yang bernama malaikat itu
terbuat dari Nur (cahaya),
sebagaimana Adam terbuat dari (tanah
liat). Allah Ta’ala menciptakan malaikat
itu lebih dahulu dari pada manusia (Adam).
Imam Muslim meriwayatkan dalam sebuah Hadist dari ‘Aisyah radiyallaaha ‘anha. Nabi
Muhammad Rasulullah s.a.w. bersabda
:
“Khulqatil malaaikatu min nurin. wakhuliqatil-jannu
min maa-rijin min naarin. wa khuliqa adamu mimma washifa lakum”.
“Malaikat itu diciptakan dari nur, jin diciptakan dari nyala api, sedangkan Adam
dari apa yang telah diterangkan padamu semua”. (HR. Muslim.)
Sebagaimana Allah
Ta’ala berfirman didalam Al-Qur’an :
“Waidz qaala rabbuka lilmalaaikati
innii jaa-‘ilun fil ardhi khalifahtan. Qaaluu ataj-‘alu fiiha man-yufsidu
fiihaa wayasfikuld-dima-a wa nahh-nu nusabbi-hhu bi-hhamdika wa nuqaddisu laka.
Qaala inni a’-lamu maala ta’lamuuna”.
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat. “Sesungguhnya
Aku (Allah) hendak menjadikan seorang Khalifaht dimuka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifaht) dibumi itu orang yang akan mmbuat kerusakan
padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji
Engkau dan mensucikan Engkau”. Allah berfirman “Sesunggunya Aku (Allah)
mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. Al-Baqarah. 30)