Islam dan Para NabiNya
Adam dan Hawa bertempat di Bumi.
Kini mulailah mereka berdua
{Adam dan Hawa}
mulai hidup dimuka bumi yang penuh dengan pepohonan, hutan belukar, beraneka macam hewan, semenjak mereka berdua
dikeluarkan dari syurga oleh Allah Ta’ala, akibat kesalahan yang dilanggarnya.
Sangat jauh perbedaannya antara di dunia/bumi dengan di
syurga, bagaikan siang dan malam, panas
dan dingin. Kini mereka mulai merasakan
perbedaan yang sangat
menyolok itu, tapi apa boleh buat, apapun berat dan resikonya harus
dihadapinya.
Kehidupan Nabi Adam a.s. dan Hawa di
bumi mengalami kehidupan yang penuh denagan resiko dan tanggung jawab, dan
setiap akan menginginkan sesuatu harus mengeluarkan tenaga. Dibumi itu Adam dan
Hawa mulai bekerja dengan sekeras-kerasnya, mulai bercocok tanam, mengebangkan perternakan, mulai mengatur alam lingkungannya, menggali
saluran-saluran air, mencari ikan, dan semua aktivitas yang ada hubungannya
dengan kehidupan.
Dan untuk menghadapi
musuh besar dibumi
ini Allah Ta’ala telah memberikan senjata dan benteng,
yaitu yang berupa petunjuk. Hanya dengan petunjuk dari Allah
Ta’ala itulah kiranya Nabi Adam a.s.
dapat selamat dari tipu daya syaithan yang manis dan menyesatkan itu.
Sebagaimana firman Allah
Ta’ala dalam Al Qur’an :
“Qulnah-bithuw minhaa
jamiy’an fa-imma yak-tiyan-nakum minniy
hudan faman tabi’a hudaa
yafala-khawfun ‘alayhim
walaa-hum yahh-djanuna”.
“Kami berfirman
: Turunlah kamu semua
dari syurga itu ! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka
barang siapa yang
mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada rasa kekhawatiran atas
mereka, dan tidak {pula} mereka bersedih hati”.
{QS. Al Baqarah. 38}.
Dan waktu terus berjalan, maka dengan taqdir, dan pertolongan
Allah Ta’ala, lahirlah seorang bayi yang pertama
didunia dari seorang Hawa. Menurut satu
riwayat bahwa Hawa melahirkan anak, dia dianugerahi anak kembar
yaitu laki-laki dan perempuan. Kelahiran
anak pertama kembar, laki-laki dan perempuan, yang bernama Qabil {sebagai kakak
laki-lakinya} dan yang perempuan bernama adik Qabil.
Pada tahun berikutnya, Hawa
melahirkan anak kembar lagi laki-laki dan perempuan, yang bernama Habil {sebagai
kakak laki-lakinya} dan yang
perempuan dinamakan adik Habil. Demikianlah
seterusnya dengan Qudraht dan Iradaht Allah Ta’ala, semakin banyaklah
keturunan Adam dan Hawa. Ketika
menginjak usia remaja, Qabil dan Habil di ajarkan tentang segala hal pekerjaan seperti bercocok tanam, pertukangan, dan peternakan, agar mereka mampu mengerjakan sendirinya kelak, dan semua yang mereka lakukan itu
membuahkan hasil yang luar biasa. Kini kehidupan Adam dan anak-anaknya hidup
dalam keadaan makmur.
Maka sudah selayaknya bagi kita
semua bersyukur kepada Allah Ta’ala, dan meninggalkan segala
larangan-larangan-Nya, itulah kata-kata Adam kepada anak-anaknya. Untuk
memahami keimanan dan kesyukuran
Qabil dan Habil,
maka Adam menyuruh keduanya itu
mengambil sebagian dari penghasilan/rizkinya ke puncak gunung, agar dapat dimakan
makhluq-makhluq yang diciptakan Allah Ta’ala yang tidak pandai bercocok tanam.
Habil {adiknya} yang perasaannya halus dan
perangainya baik, melaksanakan apa yang
telah dikatakan ayahnya sebaik-baiknya dengan memilih yang baik untuk
diberikannya.
Qabil {kakaknya} yang
perasaannya kasar, prilakunya kejam dan sangat perhitungan sekali terhadap
semua hasil yang didapatkannya, dan melaksanaka apa yang dikatakan ayahnya dengan
memberi hasil yang kurang baik sambil berkata, untuk
mendapatkannya saja harus mengeluarkan
tenaga yang banyag, tapi sekarang harus dikurbankan supaya dimakan oleh ciptaan
yang lain yang tidak bercocok tanam.
Iblis sebagai musuh besar Nabi Adam
a.s. dan anak keturunannya, melihat dan mendapat
peluang, untuk membujuk dan merayu Qabil
s ebagai keturunan Adam, untuk
dijerumuskan kedalam lembah kema’siahtan
dan kejahatan.
Dan pada saat yang
ditentukan memberikan, Habil {adiknya} mengambil
dan mengumpulkan, ternak yang sehat
dan gemuk, buah-buahan yang segar. Sedangkan
Qabil {kakaknya}
memberikan ternak yang tidak
sehat dan kurus, dan buah yang tidak
baik dan busuk. Dan sampailah kini keduanya
meletakkan persembahannya dipuncak gunung.
Pada esok harinya
kedua anak itu diiringi
oleh ayahnya {Narbi Adam a.s.} untuk melihat
hasil
kurbannya masing-masing. Jika barang kurbannya
habis dimakan
binatang, maka itu pertanda
kurbannya telah diterima oleh Allah Ta’ala. Dan ternyata kurban kepunyaan Habil habis,
sedangkan kurbannya
Qabil masih ada, tidak berkurang sedikitpun, pertanda bahwa kurbannya tidak diterima Allah Ta’ala. Alangkah gembiranya
hati Habil karena kurbannya telah diterima AllahTa’ala. Qabil
menjadi marah dan iri
hati, dengan nada amarah Qabil berkata kepada Ayahnya :
“Kurban si Habil diterima oleh Allah Ta’ala, karena bapak telah mendo’akan
baginya. Kurban saya tidak diterima Allah Ta’ala karena bapak
tidak mendo’akannya”.
Qabil membunuh
Habil.
Selang beberapa
hari, bulan dan tahun, kedingkian
yang dipendam oleh Qabil tiada berkurang bahkan semakin
bertambah, dan ditambah lagi kemarahan dan keirihatian kepada Habil. Karena Qabil itu diperjodohkan
oleh Adam dengan
adiknya Habil.
Dan Habil diperjodohkan
dengan adiknya Qabil. Memang menurut syari’ahtnya Nabi Adam a.s., anak
kembar tidak boleh dijodohkan dengan kembarannya.
Oleh sebab itu Qabil tidak boleh diperkenankan untuk
kawin dengan adik kandungnya sendiri.
Jadi Nabi Adam
a.s. memperjodohkan kedua putrnya
itu bersilang {Habil dengan
adiknya Qabil dan Qabil
dengan adknya Habil}.
Yang menjadi kemarahan Qabil terhadap
Habil karena Qabil dijodohkan
dengan adiknya Habil, karena adik Habil
sangat jele rupannya, bila dibandingkan adiknya Qabil
yang sangat cantik rupanya. Sebagai
usaha terakhir Qabil terhadap Habil adalah
dengan membunuh dan
menghabiskan nyawanya dari bumi
ini. Iblis merasa gembira karena Qabil sudah
mempunyai i’tiqad yang sangat mendalam, yaitu untuk membunuh adiknya.
Dan rencana Qabil
segera dilaksanakannya untuk membunuh Habil. Hatinya merasa lega dan
gembira, kerena tiada lagi yang menjadi saingannya, atas semua yang sudah
direncanakan Ayahnya {Nabi Adam a.s.}. Dan untuk menyelesaikan perkara
ini, supaya tidak berlarut-larut maka dipendamlah adiknya itu
diliang {lubang} dan habislah perkara,
yang Qabil meniru perbuatan
burung gagak yang
sedang berkelahi, dan salah satunya ada yang mati maka burung gagak yang masih
hidup itu menggali tanah untuk mengubur burng gagak yang sudah mati
tersebut.
Dan setelah kejadian itu Qabil tidak
pulang kerumah kerumah ayahnya Adam dan ibunya Hawa. Tetapi berkelana
kesana-kemari tanpa tujuan. Dengan
demikian Adam dan Hawa kehilangan kedua anaknya.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an :
“Ceritakanlah kepada mereka
kisah kedua putera
Adam {Habil dan Qabil} menurut
yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang
dari mereka berdua
{ Habil } dan tidak diterima dari yang lain { Qabil }. Ia berkata {Qabil} “Aku pasti membunuhmu !” Berkata {Habil} “Sesungguhnya Allah hanya
menerima {kurban} dari orang-orang yang
bertaqwa”.{27}.
“Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku
sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. “Sesungguhnya
aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam”.{28}.
“Sesungguhnya aku ingin agar
kamu kembali dengan {membawa} dosa {membunuh}
aku dan dosamu sendiri,
maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang
demikian itulah pembalasan bagi oran-orang yang zhalim”.{29}.
“Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya,
sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah Ia seorang diantara
orang-orang yang merugi”.{30}.
Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggal-gali dibumi untuk
memperlihatkan kepadanya bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudarnya.
Berkata Qabil “Aduhai celaka aku,
mengapa aku tidak mampu berbuat
seperti burung gagak ini, lalu
aku
dapat menguburkan mayat saudaraku ini ?” Karena itu jadilah dia termasuk
orang-orang yang menyesal”.
{QS. Al
Maa-idah. 27-31}.
Keterangan.
Allah Ta’ala hanya menerima
amalan yang tumbuh
dari hati yang ikhlas, suci bersih dan murni, tidak karena mengharaf
pujian manusia. Iblis dan
syaithan adalah musuh yang nyata bagi keturunan Adam dan
Hawa yang harus dihindari {dijauhi}.
Dan bentengi diri melawan iblis dan syaithan adalah dengan
berpegang teguh kepada
petunjuk Allah Ta’ala yang terkandung dalam Al Qur’an dan Hadiets.