Rabu, 25 April 2012

Habil dan Qabil.

                                                                                        
                                                                         
                                                      Islam  dan  Para  NabiNya  

Adam dan Hawa bertempat di Bumi.
Kini  mulailah  mereka  berdua  {Adam  dan  Hawa} mulai hidup dimuka bumi yang penuh dengan  pepohonan,  hutan  belukar, beraneka  macam hewan,  semenjak  mereka  berdua dikeluarkan dari syurga oleh Allah Ta’ala, akibat kesalahan yang dilanggarnya. Sangat jauh perbedaannya  antara  di dunia/bumi  dengan  di syurga,  bagaikan siang dan malam, panas dan dingin. Kini  mereka  mulai  merasakan  perbedaan  yang  sangat menyolok itu, tapi apa boleh buat, apapun berat dan resikonya harus dihadapinya.
Kehidupan Nabi Adam a.s. dan Hawa di bumi mengalami kehidupan yang penuh denagan resiko dan tanggung jawab, dan setiap akan menginginkan sesuatu harus mengeluarkan tenaga. Dibumi itu Adam dan Hawa mulai bekerja dengan sekeras-kerasnya, mulai bercocok tanam, mengebangkan  perternakan, mulai  mengatur alam lingkungannya, menggali saluran-saluran air, mencari ikan, dan semua aktivitas yang ada hubungannya dengan kehidupan.
Dan  untuk  menghadapi  musuh  besar  dibumi  ini  Allah Ta’ala telah memberikan senjata  dan  benteng,  yaitu  yang  berupa petunjuk. Hanya dengan petunjuk dari Allah Ta’ala  itulah kiranya Nabi Adam a.s. dapat selamat dari tipu daya syaithan yang manis dan menyesatkan itu.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Al Qur’an :
“Qulnah-bithuw  minhaa  jamiy’an  fa-imma  yak-tiyan-nakum  minniy  hudan  faman  tabi’a hudaa  yafala-khawfun ‘alayhim  walaa-hum  yahh-djanuna”.
“Kami berfirman : Turunlah  kamu  semua  dari syurga itu ! Kemudian jika datang petunjuk-Ku  kepadamu,  maka  barang siapa  yang  mengikuti  petunjuk-Ku,  niscaya tidak ada rasa kekhawatiran atas mereka, dan tidak {pula} mereka bersedih hati”.
{QS. Al Baqarah. 38}.
Dan  waktu  terus  berjalan, maka dengan taqdir, dan pertolongan Allah Ta’ala, lahirlah seorang  bayi  yang  pertama  didunia dari seorang Hawa. Menurut satu riwayat bahwa Hawa melahirkan  anak,  dia dianugerahi  anak  kembar yaitu laki-laki dan perempuan.  Kelahiran anak pertama  kembar, laki-laki  dan  perempuan,  yang bernama Qabil {sebagai kakak laki-lakinya} dan yang perempuan bernama adik Qabil.
Pada tahun berikutnya, Hawa melahirkan anak kembar lagi laki-laki dan perempuan, yang bernama  Habil  {sebagai  kakak laki-lakinya}  dan  yang perempuan dinamakan adik Habil.  Demikianlah  seterusnya  dengan  Qudraht  dan Iradaht Allah Ta’ala, semakin banyaklah keturunan Adam  dan Hawa. Ketika menginjak usia remaja, Qabil dan Habil di ajarkan tentang segala hal pekerjaan  seperti  bercocok tanam,  pertukangan, dan peternakan, agar   mereka mampu mengerjakan sendirinya  kelak, dan semua yang mereka lakukan itu membuahkan hasil yang luar biasa. Kini kehidupan Adam dan anak-anaknya hidup dalam keadaan makmur. 
Maka sudah selayaknya bagi kita semua bersyukur kepada Allah Ta’ala, dan meninggalkan segala larangan-larangan-Nya, itulah kata-kata Adam kepada anak-anaknya. Untuk memahami  keimanan  dan kesyukuran  Qabil  dan  Habil,  maka Adam menyuruh keduanya itu mengambil sebagian dari penghasilan/rizkinya ke puncak gunung, agar dapat dimakan makhluq-makhluq yang diciptakan Allah Ta’ala yang tidak pandai bercocok tanam.
Habil  {adiknya}  yang  perasaannya  halus  dan  perangainya baik, melaksanakan apa yang telah dikatakan ayahnya sebaik-baiknya dengan memilih yang baik untuk diberikannya.
Qabil {kakaknya} yang perasaannya kasar, prilakunya kejam dan sangat perhitungan sekali terhadap semua hasil yang didapatkannya, dan melaksanaka apa yang dikatakan ayahnya  dengan  memberi hasil  yang  kurang baik sambil berkata, untuk mendapatkannya  saja harus mengeluarkan tenaga yang banyag, tapi sekarang harus dikurbankan supaya dimakan oleh ciptaan yang lain yang tidak bercocok tanam.
Iblis sebagai musuh besar Nabi Adam a.s. dan anak keturunannya, melihat dan  mendapat peluang, untuk membujuk  dan merayu  Qabil s ebagai  keturunan  Adam,  untuk   dijerumuskan kedalam  lembah  kema’siahtan  dan  kejahatan.  Dan  pada  saat  yang  ditentukan  memberikan,  Habil  {adiknya}  mengambil  dan mengumpulkan,  ternak  yang  sehat  dan  gemuk, buah-buahan yang segar.  Sedangkan  Qabil  {kakaknya}  memberikan  ternak yang tidak sehat dan kurus, dan buah  yang tidak baik dan busuk.  Dan sampailah kini keduanya meletakkan persembahannya dipuncak gunung.
Pada  esok  harinya  kedua  anak  itu  diiringi oleh ayahnya {Narbi Adam a.s.} untuk  melihat  hasil  kurbannya  masing-masing. Jika  barang  kurbannya  habis  dimakan  binatang, maka  itu pertanda kurbannya  telah  diterima oleh Allah Ta’ala. Dan  ternyata   kurban kepunyaan  Habil  habis,  sedangkan  kurbannya  Qabil  masih  ada, tidak  berkurang  sedikitpun,  pertanda  bahwa kurbannya tidak  diterima Allah Ta’ala. Alangkah gembiranya hati Habil karena kurbannya telah diterima AllahTa’ala.    Qabil  menjadi  marah  dan  iri hati,  dengan nada amarah Qabil berkata  kepada Ayahnya :
“Kurban si Habil diterima oleh Allah Ta’ala, karena bapak telah mendo’akan baginya. Kurban  saya  tidak diterima  Allah Ta’ala karena  bapak  tidak  mendo’akannya”.
Qabil membunuh Habil.
Selang  beberapa  hari,  bulan dan tahun, kedingkian yang dipendam oleh Qabil  tiada  berkurang  bahkan  semakin bertambah, dan ditambah lagi kemarahan dan keirihatian  kepada  Habil.  Karena  Qabil itu  diperjodohkan  oleh  Adam  dengan  adiknya  Habil.  Dan Habil  diperjodohkan dengan  adiknya  Qabil.  Memang menurut syari’ahtnya Nabi Adam a.s., anak kembar tidak boleh dijodohkan  dengan kembarannya.  Oleh  sebab  itu Qabil tidak boleh diperkenankan untuk kawin dengan adik  kandungnya  sendiri.  Jadi   Nabi  Adam a.s. memperjodohkan  kedua  putrnya itu  bersilang  {Habil  dengan  adiknya Qabil  dan  Qabil  dengan  adknya Habil}.
Yang  menjadi  kemarahan  Qabil terhadap  Habil  karena Qabil dijodohkan dengan adiknya Habil,  karena  adik  Habil  sangat  jele rupannya, bila dibandingkan adiknya  Qabil  yang  sangat  cantik rupanya.  Sebagai  usaha terakhir Qabil terhadap  Habil  adalah  dengan  membunuh  dan  menghabiskan  nyawanya dari bumi ini.  Iblis merasa gembira karena Qabil sudah mempunyai i’tiqad yang sangat mendalam, yaitu untuk membunuh adiknya.
Dan  rencana  Qabil  segera  dilaksanakannya  untuk membunuh Habil. Hatinya merasa lega dan gembira, kerena tiada lagi yang menjadi saingannya, atas semua yang sudah direncanakan Ayahnya {Nabi Adam a.s.}.  Dan untuk menyelesaikan  perkara  ini, supaya  tidak  berlarut-larut  maka dipendamlah  adiknya itu  diliang {lubang}  dan habislah  perkara,  yang  Qabil  meniru  perbuatan  burung  gagak  yang  sedang  berkelahi, dan  salah satunya ada yang mati maka burung gagak  yang masih  hidup itu menggali tanah untuk mengubur burng gagak yang sudah mati tersebut.
Dan setelah kejadian itu Qabil tidak pulang kerumah kerumah ayahnya Adam dan ibunya Hawa. Tetapi berkelana kesana-kemari tanpa tujuan.  Dengan demikian Adam dan Hawa kehilangan kedua anaknya.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an :
“Ceritakanlah  kepada  mereka  kisah  kedua  putera  Adam  {Habil dan Qabil} menurut yang  sebenarnya,  ketika  keduanya  mempersembahkan  kurban, maka diterima dari salah  seorang  dari  mereka  berdua  { Habil } dan  tidak  diterima  dari yang lain  { Qabil }. Ia berkata {Qabil}  “Aku pasti membunuhmu !”  Berkata {Habil} “Sesungguhnya Allah hanya menerima  {kurban} dari orang-orang yang bertaqwa”.{27}.
“Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. “Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam”.{28}.
“Sesungguhnya  aku  ingin  agar  kamu kembali dengan {membawa} dosa {membunuh} aku  dan  dosamu  sendiri,  maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi oran-orang yang zhalim”.{29}.
“Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab  itu  dibunuhnyalah, maka jadilah Ia seorang diantara orang-orang yang merugi”.{30}.
Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggal-gali dibumi untuk memperlihatkan kepadanya bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudarnya. Berkata  Qabil “Aduhai  celaka  aku,  mengapa  aku  tidak  mampu  berbuat  seperti burung  gagak  ini,  lalu  aku  dapat menguburkan mayat saudaraku ini ?” Karena itu jadilah  dia  termasuk  orang-orang yang  menyesal”. {QS. Al Maa-idah. 27-31}.
Keterangan.
Allah Ta’ala  hanya  menerima  amalan  yang  tumbuh  dari  hati yang ikhlas, suci bersih dan murni,  tidak  karena  mengharaf  pujian manusia.  Iblis  dan  syaithan  adalah  musuh  yang nyata bagi keturunan Adam  dan Hawa  yang harus  dihindari  {dijauhi}.  Dan bentengi diri melawan iblis dan  syaithan  adalah  dengan  berpegang teguh  kepada petunjuk Allah Ta’ala yang terkandung dalam Al Qur’an dan Hadiets.