Jumat, 13 April 2012

Adam dan Hawa terbujuk iblis.


                                                                                         
                                                                         
                                                     Islam  dan  Para  NabiNya

Adam dan Hawa terpikat bujukan iblis.
Tidak henti-hentinya iblis dalam memperdaya Adam dan Hawa agar keduanya melanggar larangan  Allah Ta’ala,  dan sebelumnya Allah Ta’ala  telah memberi peringatan kepada Adam  dan Hawa  bahwasanya  berhati-hatilah  dalam  menghadapi iblis  itu.  Sebagaimana  firman Allah Ta’ala didalam Al Qur’an :
“Faqulnaa  yaa adamu  inna  haadzaa  ‘aduwul-laka  walidjawjika  falaa yukhri  jannakumaa  minal-jannati  faatasyqaa”.
“Maka  Kami {Allah} berkata : “Hai  Adam,  sesungguhnya  Iblis  ini  adalah  musuh  bagimu  dan  bagi  isterimu, maka  sekali-sekali  janganlah  sampai  ia  mengeluarkan  kamu  berdua  dari  syurga,  yang  menyebabkan  kamu  celaka”. {QS, Thaha. 117}.
“Fawas wasa ilayhisy-syaiythaanu qaala yaa-adamu hal adul-luka  ‘alaa syajaratil-khuldi  wa mulkinl-layablaa”.
“Kemudian syaithan membisikan fikiran jahat kepadanya, dengan berkata :   “Hai  Adam,  maukah  kamu  saya  tunjukan  kepada  kamu  pohon  khuldi  dan kerajaan  yang  tidak akan  binasa ?” {QS. Thaahaa. 120}
Dan dengan cara yang sangat manis, bujuk rayuan iblis dilancarkan kepada Adam dan isterinya,  maka  keduanya  sampai  lupa  bahwa  iblis  itu  adalah musuh yang nyata, bahkan lebih dari itu  Adam  dan  Hawa telah  melanggar larangan Allah Ta’ala, yang pernah dilarang-Nya, yaitu memakan buah dari pohon yang dilarang tersebut.  Maka  seketika itu juga  aurat  mereka berdua terbuka,  padahal  sebelumnya  mereka  belum  pernah  saling  melihat  auratnya.  Mengetahui  akan hal itu begitu malunya mereka,  dan dengan rasa  malu mereka mengumpulkan daun-daunan untuk menutupi aurat  mereka masing-masing, yang  tiba-tiba terbuka itu.
Sebagaiman firman Allah Ta’ala dalam Al Qur’an :
“Fa akalaa  minhaa fabadat  lahumaa  saw  aatuhumaa  wa thafiqaa  yakhshifaani  ‘alayhimaa min  waraqil-jannati  wa ‘ashaa  aadamu  rabbahu faghawaa”.
“Maka  keduanya  memakan sebagian  buah  pohon itu,  lalu nampaklah  bagi  keduanya  aurat-auratnya  dan  mulailah  keduanya  menutupi  dengan  daun-daun  (yang ada) di syurga,  dan  durhakalah  Adam  kepada  Allah  dan  sesatlah Ia”. {QS. Thaahaa. 121}.
Kemudian Allah Ta’ala memanggil mereka berdua dan menegurnya, “Bukankah Aku telah melarang memakan buah itu ?  Dan bukankah Aku telah menerangkan bahwa syaithan (iblis) itu musuh kamu yang nyata”.
Akhirnya  Adam dan Hawa menerima balasan dari apa yang mereka perbuat atas larangan Allah Ta’ala  yang  tiada  ditha’atinya.  Dan  dikeluarkan  dari  syurga  dan berada  dibumi,  dan dibumi itu nanti keterunannya akan mengalami permusuhan.  Keturunan mereka akan menjadi penghuni,  memakmurkan  bumi  dan  mengenyam  keni’matan  terbatas  sampai  datang ajal mereka.  Di bumi  juga  Allah Ta’ala  menurunkan  petunjuk,  barang  siapa  mentha’ati   petunjuk  Allah Ta’ala  tidak akan terjerembab kedalam dosa dan kesengsaraan dunia.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman di dalam Al Qur’an :
“Qaala  ahbitha  minhaa jamiy-‘anm ba’dhukum liba’dhukum liba’dhin ‘aduw-wun  faa-imma yak tiyannakumm-manniy hudan  famanit-taba’a  hudaya  falaa  yadhillu walaa  yasyqaa”.
“Allah  berfirman : “Turunlah  kamu  berdua  dari  syurga  bersama-sama,  sebagaian  kamu  menjadi  musuh  bagi  sebagian  yang  lain.  Maka  jika  datang  kepadamu  petunjuk  dari-Ku,  maka  barang  siapa  yang  mengikuti petunjuk-Ku,  Ia  tidak  akan  celaka”. {QS. Thaahaa. 123}.
Adam dan Hawa menyesali perbuatan melanggar larangan Allah Ta’ala.
Ketika  keduanya  berada  dimuka  bumi,  lama sekali mereka merenungi diri, ingat dan menyesali  akan  perbuatan yang melanggar larangan Allah Ta’ala itu.  Dengan hati yang tulus dan penuh pengharapan ampunan Allah Ta’ala maka mereka duduk bersimpuh dimuka bumi, dibawah pepohonan  dunia  dengan  menengadahkan  kedua  tangannya  sambil  berkata :
“Qaala rabbana zhalamnaa anmfusanaa wainl-lam  targhfirlanaa  watar  hhamnaa  lanakuw-nanna minal-khaasiriyna”.
“Keduanya berkata : “Yaa  Tuhan kami,  kami telah  menganiaya  diri kami, dan  jika  Engkau  tidak  mengampuni  kami,  niscaya  kami termasuk  orang-orang yang merugi”. {QS. Al A’raaf. 23}.
Maka do’a Adam dan Hawa itu didengar oleh Allah Ta’ala, dan diterimanya, atau dengan pengertian lain taubatnya Adam dan Hawa telah diterima Allah Ta’ala.
“Fatalaqqaa  aadamu  minr-rabbihi,  kalimaatin  fataba  ‘alayhi,  innahu  huwat-tawwaburra-hhiymu”.
“Kemudian Adam  menerima beberapa  kalimaht  dari  Tuhannya,  maka  Allah  menerima  taubatnya.  Sesungguhnya  Allah  Maha  Penerima  taubat  lagi  Maha  Penyayang”. {QS. Al Baqarah. 37}.
Berbagai pendapat tentang syurga Adam dan Hawa.
Telah diterangkan bahwa Nabi Adam a.s. melanggar larangan Allah Ta’ala, sehingga mengakibatkan  dirinya  dikeluarkan  dari  syurga.  Dan  hal  kenyataan  akan  keberadaan syurga tempat  keberadaan  Adam  dan hawa,  dan ada yang menyatakan,  Syajaratil-khuldi,  yang ada dilangit,  atau keberadaan syurga itu didunia.
Dan  dari  semua  pendapat  yang kuat maka dapat difahami  bahwa keberadaan syurga tersebut,  dari  suatu  pengertian  bahwa  Allah Ta’ala  menciptakan  Adam dibumi, seperti banyak firman-firman  Allah Ta’ala :  “Inna jaa’ilun fil ardhi khalifatan”  disini  Allah Ta’ala  tidak menyebutkan,  tetapi Allah Ta’ala memerintahkan malaikat untuk mengambil bermulanya Adam diciptakan dan membawanya kepada Allah Ta’ala. Dan Allah Ta’ala memindahkannya kelangit.  Kemudian  Allah Ta’ala  memberi  shifat syurga yang dijanjikan dilangit adalah syurga yang  di Jaizkan  {dikekalkan}  yang  terus-menerus  berada akan segala ni’mat Allah Ta’ala, dan penuh dengan  penjagaan  atas para malaikat-Nya,  yang  sangat  tha’at kepada Allah Ta’ala. Maka jika syurga itu  yang dimaksud, maka  mustahil  iblis  dapat  masuk  (berada)  untuk dapat  menipu Adam dan Hawa  dengan segala  tipu-dayanya  yang  sangat menyesatkan.
Dan juga syurga yang kekal,  syurga yang ada disisi Allah Ta’ala,  yang semua terjadi atas ketentuan Rahman dan Rahiim-Nya.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Al Qur’an :
Laa yamas-suhum fiyhaa nashabun wamaa humm-minhaa bimukh-rajiyna”.
“Mereka  tidak  merasa  lelah  didalamnya  dan  mereka  sekali-kali  tidak  akan  dikeluarkan  daripadanya”. {QS. Al Hijr. 48}.
“Wa ammal-ladziyna su-‘iduw  fafil-jannati  khaalidiyna  fihaa  maadamatis-samaawaatu  wal-ardhu  illaa maasyaa-arabbuka  ‘atha-an  rghayra  majdzuwdzin”.
“Adapun  orang-orang yang  berbahagia,  maka  tempatnya  didalam  syurga, mereka  kekal  didalamnya  selama ada langit dan bumi,  kecuali  jika  Tuhanmu  menghendaki  {yang lain} : sebagai  karunia  yang tiada putus-putusnya”. {QS. Huud. 108}.
Dengan memperhatikan beberapa ayat diatas, jelas bahwa keluarnya Adam dan Hawa dari syurga itu bukanlah syurga yang dijanjikan oleh Allah Ta’ala bagi orang-orang mukmin pada hari kiamat nanti, atau syurga syajaratil khuldi.  Memang tidak menutupi kemungkinan bahwa syurga yang ditempati Adam merupakan syurga yang tempatnya lebih tinggi dibanding dengan permukaan bumi yang ada pepohonan, buah-buahan dan kenikmatan.
Sebagaimana firman  Allah Ta’ala didalam Al Qur’an :
“Inna-laka allaa tajuw ‘a  Fiyhaa walaa ta’raa”.{118} “Wa annaka  laatathmauw  Fiyhaa  walaa tadh-hhaa”.{119}
“Sesunggunya kamu tidak akan kelaparan didalamnya dan tidak akan telanjang. Dan sesunggunya kamu tiak akan merasa dahaga didalamnya dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari”. {QS. Thaahaa. 118-119}.
Adapun yang berpendapat bahwa Adam dan Hawa itu tinggal di Jannatul Khuldi (syurga yang dilangit, syurga yang kekal), dan akhirnya diperintah turn kebumi beralasan.  Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Al Qur’an :
“Qulnaah-bithuw  minhaa jamiy-‘an  fa-immaa  yak-tiyannakum  minni  hudan  faman  tabi’a  hudaaya  falaa  khawfun  ‘alayhim walaahum  yahh-zanuwna”.{38}
“Kami berfirman : Turunlah kamu semuanya dari surga itu ! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti  yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.
{QS. Al Baqarah. 38}.
Akan tetapi ayat yang dimaksud dengan lafadz  “IHBITHUU”  yang bermakna “Pindah dari satu tempat ketempat lain”.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Al Qur’an :
“Ihbithuw mishran fainna lakumm-maa saa-altum”
“. . . . .Pergilah kamu kesutu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta. . . . .”
{QS. Al Baqarah. 61}.
Dengan demikian bisa difahami bahwa syurga yang ditempati Adam dan Hawa adalah bukan syurga yang dijanjikan Allah Ta’ala di Akhirat. Akan tetapi berada di alam dunia.  Dimana didalam syurga tersebut penuh keni’matan, ada buah-buahan, pepohonan yang tempatnya lebih tinggi dari permukaan bumi ini.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar