Islam dan Para NabiNya
Adam dan Hawa terpikat bujukan iblis.
Tidak henti-hentinya iblis dalam memperdaya Adam dan Hawa agar keduanya melanggar larangan Allah
Ta’ala, dan sebelumnya Allah Ta’ala telah memberi peringatan kepada Adam dan Hawa
bahwasanya berhati-hatilah dalam menghadapi
iblis itu. Sebagaimana
firman Allah Ta’ala didalam Al Qur’an :
“Faqulnaa yaa adamu
inna haadzaa ‘aduwul-laka
walidjawjika falaa yukhri jannakumaa
minal-jannati faatasyqaa”.
“Maka Kami {Allah}
berkata : “Hai Adam, sesungguhnya
Iblis ini adalah
musuh bagimu dan
bagi isterimu, maka sekali-sekali
janganlah sampai ia
mengeluarkan kamu berdua
dari syurga, yang
menyebabkan kamu celaka”. {QS, Thaha. 117}.
“Fawas wasa ilayhisy-syaiythaanu qaala yaa-adamu hal adul-luka ‘alaa
syajaratil-khuldi wa mulkinl-layablaa”.
“Kemudian syaithan membisikan fikiran
jahat kepadanya, dengan berkata : “Hai
Adam, maukah kamu
saya tunjukan kepada
kamu pohon khuldi dan
kerajaan yang tidak akan binasa ?” {QS.
Thaahaa. 120}
Dan dengan cara yang
sangat manis, bujuk rayuan iblis
dilancarkan kepada Adam dan isterinya, maka keduanya
sampai lupa bahwa iblis
itu adalah musuh yang nyata, bahkan lebih dari itu
Adam dan
Hawa telah melanggar larangan Allah Ta’ala, yang pernah dilarang-Nya, yaitu memakan buah dari
pohon yang dilarang tersebut. Maka seketika itu juga aurat mereka berdua terbuka, padahal sebelumnya mereka belum pernah
saling melihat auratnya. Mengetahui akan hal itu begitu malunya mereka, dan dengan rasa malu mereka mengumpulkan daun-daunan untuk menutupi aurat mereka
masing-masing, yang tiba-tiba terbuka
itu.
Sebagaiman firman Allah Ta’ala dalam Al Qur’an :
“Fa akalaa minhaa fabadat lahumaa
saw aatuhumaa wa thafiqaa
yakhshifaani ‘alayhimaa min waraqil-jannati wa ‘ashaa
aadamu rabbahu faghawaa”.
“Maka
keduanya memakan sebagian buah
pohon itu, lalu nampaklah bagi
keduanya aurat-auratnya dan
mulailah keduanya menutupi
dengan daun-daun (yang ada) di syurga, dan
durhakalah Adam kepada
Allah dan sesatlah Ia”. {QS.
Thaahaa. 121}.
Kemudian Allah Ta’ala
memanggil mereka berdua dan menegurnya, “Bukankah
Aku telah melarang memakan buah itu ?
Dan bukankah Aku telah menerangkan bahwa syaithan (iblis) itu musuh kamu
yang nyata”.
Akhirnya Adam dan
Hawa menerima balasan dari apa yang
mereka perbuat atas larangan Allah
Ta’ala yang tiada ditha’atinya. Dan dikeluarkan
dari syurga
dan berada dibumi,
dan dibumi itu nanti keterunannya akan mengalami permusuhan. Keturunan mereka akan menjadi penghuni, memakmurkan
bumi dan mengenyam
keni’matan terbatas sampai
datang ajal mereka. Di bumi
juga Allah Ta’ala menurunkan petunjuk,
barang siapa mentha’ati petunjuk Allah
Ta’ala tidak akan terjerembab
kedalam dosa dan kesengsaraan dunia.
Sebagaimana Allah Ta’ala
berfirman di dalam Al Qur’an :
“Qaala ahbitha minhaa jamiy-‘anm ba’dhukum liba’dhukum
liba’dhin ‘aduw-wun faa-imma yak
tiyannakumm-manniy hudan
famanit-taba’a hudaya falaa
yadhillu walaa yasyqaa”.
“Allah berfirman :
“Turunlah kamu berdua
dari syurga bersama-sama,
sebagaian kamu menjadi
musuh bagi sebagian
yang lain. Maka
jika datang kepadamu
petunjuk dari-Ku, maka
barang siapa yang
mengikuti petunjuk-Ku, Ia tidak
akan celaka”.
{QS. Thaahaa. 123}.
Adam dan Hawa menyesali perbuatan melanggar
larangan Allah Ta’ala.
Ketika keduanya berada dimuka
bumi,
lama sekali mereka merenungi diri, ingat dan menyesali akan perbuatan yang melanggar larangan Allah Ta’ala itu. Dengan hati yang tulus dan penuh pengharapan
ampunan Allah Ta’ala maka mereka
duduk bersimpuh dimuka bumi, dibawah pepohonan dunia dengan
menengadahkan kedua tangannya
sambil berkata :
“Qaala rabbana zhalamnaa anmfusanaa wainl-lam
targhfirlanaa watar hhamnaa
lanakuw-nanna minal-khaasiriyna”.
“Keduanya berkata : “Yaa
Tuhan kami, kami telah menganiaya
diri kami, dan jika Engkau
tidak mengampuni kami,
niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi”.
{QS. Al A’raaf. 23}.
Maka do’a Adam dan Hawa itu
didengar oleh Allah Ta’ala, dan
diterimanya, atau dengan pengertian lain taubatnya
Adam dan Hawa telah diterima Allah Ta’ala.
“Fatalaqqaa aadamu
minr-rabbihi, kalimaatin fataba
‘alayhi, innahu huwat-tawwaburra-hhiymu”.
“Kemudian Adam menerima beberapa kalimaht dari
Tuhannya, maka Allah
menerima taubatnya. Sesungguhnya
Allah Maha Penerima
taubat lagi Maha
Penyayang”. {QS. Al
Baqarah. 37}.
Berbagai pendapat tentang syurga Adam dan Hawa.
Telah diterangkan bahwa Nabi Adam a.s. melanggar larangan Allah Ta’ala, sehingga mengakibatkan dirinya dikeluarkan dari syurga. Dan hal
kenyataan akan keberadaan
syurga tempat keberadaan Adam dan hawa,
dan ada yang menyatakan, Syajaratil-khuldi, yang ada dilangit, atau keberadaan syurga itu didunia.
Dan dari semua pendapat yang kuat maka dapat difahami bahwa keberadaan syurga tersebut, dari suatu pengertian
bahwa Allah Ta’ala menciptakan Adam dibumi, seperti banyak firman-firman Allah
Ta’ala : “Inna jaa’ilun fil ardhi khalifatan”
disini Allah
Ta’ala tidak menyebutkan, tetapi Allah
Ta’ala memerintahkan malaikat untuk mengambil bermulanya Adam diciptakan
dan membawanya kepada Allah Ta’ala.
Dan Allah Ta’ala memindahkannya
kelangit. Kemudian Allah
Ta’ala memberi shifat
syurga yang dijanjikan dilangit
adalah syurga yang di
Jaizkan {dikekalkan}
yang terus-menerus berada akan segala ni’mat Allah Ta’ala, dan penuh dengan penjagaan
atas para malaikat-Nya, yang sangat tha’at kepada Allah Ta’ala. Maka jika syurga itu
yang dimaksud, maka mustahil iblis dapat
masuk (berada) untuk dapat menipu Adam
dan Hawa dengan segala tipu-dayanya yang sangat
menyesatkan.
Dan juga syurga yang kekal, syurga yang ada disisi Allah Ta’ala, yang semua
terjadi atas ketentuan Rahman dan Rahiim-Nya.
Sebagaimana firman Allah
Ta’ala dalam Al Qur’an :
“Laa yamas-suhum fiyhaa nashabun wamaa
humm-minhaa bimukh-rajiyna”.
“Mereka tidak merasa
lelah didalamnya dan
mereka sekali-kali tidak
akan dikeluarkan daripadanya”.
{QS. Al Hijr. 48}.
“Wa
ammal-ladziyna su-‘iduw
fafil-jannati khaalidiyna fihaa
maadamatis-samaawaatu
wal-ardhu illaa
maasyaa-arabbuka ‘atha-an rghayra
majdzuwdzin”.
“Adapun
orang-orang yang berbahagia, maka
tempatnya didalam syurga, mereka kekal
didalamnya selama ada langit dan
bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki
{yang lain} : sebagai
karunia yang tiada
putus-putusnya”. {QS. Huud. 108}.
Dengan memperhatikan
beberapa ayat diatas, jelas bahwa keluarnya Adam dan Hawa dari
syurga itu bukanlah syurga yang
dijanjikan oleh Allah Ta’ala bagi
orang-orang mukmin pada hari kiamat nanti, atau syurga syajaratil khuldi.
Memang tidak menutupi kemungkinan bahwa syurga yang ditempati Adam
merupakan syurga yang tempatnya lebih tinggi dibanding dengan permukaan bumi
yang ada pepohonan, buah-buahan dan kenikmatan.
Sebagaimana
firman Allah Ta’ala didalam Al Qur’an :
“Inna-laka allaa tajuw ‘a Fiyhaa
walaa ta’raa”.{118} “Wa annaka
laatathmauw Fiyhaa walaa tadh-hhaa”.{119}
“Sesunggunya kamu tidak akan
kelaparan didalamnya dan tidak akan telanjang. Dan sesunggunya kamu tiak akan
merasa dahaga didalamnya dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari”. {QS. Thaahaa. 118-119}.
Adapun yang berpendapat bahwa Adam dan Hawa itu tinggal
di Jannatul Khuldi (syurga yang
dilangit, syurga yang kekal), dan akhirnya diperintah turn kebumi beralasan.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Al Qur’an :
“Qulnaah-bithuw minhaa jamiy-‘an fa-immaa yak-tiyannakum
minni hudan faman
tabi’a hudaaya falaa
khawfun ‘alayhim walaahum yahh-zanuwna”.{38}
“Kami berfirman : Turunlah kamu semuanya dari surga itu !
Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang
mengikuti yang mengikuti petunjuk-Ku,
niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih
hati”.
{QS. Al
Baqarah. 38}.
Akan tetapi ayat yang dimaksud dengan lafadz “IHBITHUU” yang bermakna “Pindah dari satu tempat ketempat lain”.
Sebagaimana firman Allah
Ta’ala dalam Al Qur’an :
“Ihbithuw
mishran fainna lakumm-maa saa-altum”
“. . . . .Pergilah kamu kesutu kota, pasti kamu
memperoleh apa yang kamu minta. . . . .”
{QS. Al
Baqarah. 61}.
Dengan demikian bisa
difahami bahwa syurga yang ditempati Adam dan Hawa adalah bukan syurga yang dijanjikan
Allah Ta’ala di Akhirat. Akan tetapi berada di alam dunia. Dimana didalam syurga tersebut penuh keni’matan,
ada buah-buahan, pepohonan yang tempatnya lebih tinggi dari permukaan bumi ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar