Rabu, 11 April 2012

Penciptaan Hawa.

                                                                                                                                                                                                                      
                                                            Islam  dan  Para  NabiNya   

Penciptaan Hawa sebagai pendamping Adam.
Semenjak  Allah Ta’ala menyuruh pergi iblis dari syurga maka Adam tiada yang dapat diajak berbicara.  Keadaan yang demikian telah diketahui oleh Allah Ta’ala, bahwa kehidupan Adam setiap harinya selalu kesepian.  Kemudian Allah Ta’ala membuatnya Adam tertidur lelap, maka dalam tidurnya Allah Ta’ala mengambil satu tulang rusuk kirinya, diganti dengan daging, yang selanjutnya terciptalah Hawa.  
Setelah Adam terbangun dari tidurnya, Ia terperanjat karena disebelah kepalanya ada seorang perempuan cantik, menawan yang belum diketahui sebelumnya.  Dengan penuh keheranan, dan disertai dengan keadaan gemetaran, Adam bertanya : “Siapa engkau ini” ?  “Aku adalah seorang wanita yang sengaja dijadikan oleh Allah Ta’ala untuk menemanimu dalam kesepian”.
Dengan kedatangan Hawa itu,  maka para malaikat sama bertanya kepada Adam ! “Siapakah manusia itu ?  “Ini adalah Hawa,  seorang perempuan yang menjadi pendampingku.  Dan Adam dan Hawa inilah bermula hal ikhwal kejadian manusia dijagad raya ini.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala didalam Al-Qur’an :
“Yaa ay-yuhanna sut-taquw rabbakumul-ladziy khalaqakum-minn-nafsin waa hhidatin wa khalaqa minhaa djaw jihaa wabats-tsa minhumaa rijalan kasyiyran wanisaa-an, Wat-tuqallahal-ladziy tasaa-aluwnabihi, wal-arhhama, innallaha kana ‘alaykum raqiyban”.
“Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah  menciptakan kamu dari  diri yang satu,  dan dari padanya.  Allah menciptakan isterinya ; dan dari pada keduanya  Allah  memperkembang-biakkan laki-laki dan  perempuan  yang banyak.  Dan  bertaqwalah kepada  Allah yang dengan (mempergunakan)  nama-Nya  kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan kerabat.  Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (QS. An Nisaa’. 1).
“Huwalladziy khaqakumm-minn-nafsin waa-hhidatin waja’ala minhaa djawjaha liyaskuna ilayhaa”....
“Dialah Yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya”...
(QS. Al A’Raaf. 189).
Adam dan Hawa bertempat di Syurga.
Ketika Adam sudah mendapatkan pendamping yang setia, sudah lengkaplah rasanya kehidupan ini.  Maka selanjutnya Allah Ta’ala memerintahkan  kepada keduanya (Adam dan Hawa) untuk menempati syurga,  yang mana didalamnya disediakan beraneka macam buah-buahan yang sangat manis dan lezat.  Buah-buahan yang ada didalam syurga itu semua boleh dimakan Adam dan Hawa,  hanya saja sebuah pohon yang dilarang oleh Allah Ta’ala untuk mendekati.  Bahkan Allah Ta’ala memberi peringatan yang sangat keras,  apabila sampai nanti akan memakan buah tersebut itu, yaitu akan menjadi orang yang tersesat dan melanggar larangan Allah Ta’ala.
Dan Iblis  mengetahui  akan apa yang dikatakan Allah Ta’ala kepada  Adam  dan Hawa,  dan sebagai orang yang terusir, Ia tidak rela hati, dendam kepadanya, dan akhirnya iblis mulai mengatur siasat dan cara untuk dapat menggoda Adam agar mengambil buah yang telah dilarang Allah Ta’ala. Dengan berbekal kepada kata-kata manis dan tipu daya,  iblis mulai menghadap kepada Adam dan Hawa untuk membuat sesuatu perhitungan.
Selanjutnya Iblis berkata kepada Adam dan Hawa : “Hai Adam, aku datang kemari  hanya  untuk  memberi  khabar gembira kepada kalian berdua, yaitu bahwa  Allah Ta’ala  melarang  kalian  tidak  boleh memakan buah ini  melainkan hanyalah  supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat,  dan tidak  kekal  di syurga ini yang penuh keni’matan  itu.  Dan  aku  ini  bersumpah  di- hadapan kalian  hanya  sebagai  orang  yang  menjadi  nasehat terhadap kalian  berdua”.
 Sebagaimana  firman  Allah Ta’ala dalam Al Qur’an :  “Wayaa–adamus-kun  anta  wadjaw  jukal-jannata  fakulaa min hhaytsu  syiktumaa  walaa  taqrabaa  haadzihisy-syajarata  fatakuwnaa  minazh-zhaalimiyna”.{19} “Fawaswasa  lahumaasy-syaythaanu  liyubdiya  lahumaa  maawu  riya  ‘anhumaa  min saw-aatihimaa  wa qaalaa  maa nahaakumaa  rabbukumaa  ‘anhaadzihisy-syajarati illaa antakuw  naa-malakayni  awtakuw  naa-minalkhaalidiyna”.{20} “Waqaa  samahumaa  inni  lakumaa  laminan-nashihhiyna”.{21}. 
“{Dan  Allah  berfirman} : “Hai  Adam  tinggallah kamu  dan  isterimu  didalam  syurga  serta  makanlah  {buah-buahan} dimana  saja  kamu  sukai, dan  janganlah  kamu  mendekati  pohon  ini,  lalu kamu  termasuk  orang-orang  yang  dzalim.  Maka syaithan  membisikan {fikiran jahat} kepada keduanya untuk  menampakan  kepada mereka  apa yang  tertutup  dari  {tubuh} mereka yaitu  auratnya dan  syaithan  berkata : “Tuhanmu  tidak  melarangmu  dari  mendekati  pohon ini,  melainkan  supaya  kamu  berdua  tidak  menjadi  malaikat  atau  tidak  menjadi  orang-orang  yang  kekal  {dalam  syurga}.  “Dan  syaithan  bersumpah  kepada  keduanya. “Sesungguhnya aku  termasuk  orang  yang  memberi  nasehat bagimu”. {QS. Al A’raaf. 19-21}.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar