Senin, 14 Mei 2012

Da'wah Nabi Nuh a.s.

                                                                                          
                                                                           
                                                        Islam  dan  Para  NabiNya 
Da’wah Nabi Nuh a.s dengan tanya jawab.
Nabi Nuh a.s tidak putus asa dalam menyampaikan risalah kepada kaumnya, walaupun da’wahnya lewat nasehat dan berkhutbah itu tidak mendapat sambutan yang baik, kini ia {Nuh} telah melakukan dengan cara diskusi (tanya jawab), baik secara perseorangan maupun secara kelompok. Dan keduanya saling mendatangkan bukti dan dalil yang dapat di ajukan.
Pada suatu sa’at Nuh berkata kepada kaumnya :
 “Hai kaumku, bagaimana pendapatmu tentang status diriku di depan matamu, andaikata aku mempunyai bukti yang kuat dari Tuhanku bahwa Dia memberiku pangkat kenabian dan risalah dengan rahmat dan fadhilah-Nya ?. Saya kira yang menutup diri kalian untuk menerima petunjuk Tuhan adalah kebodahan dan tepedayanya dengan harta dan kedudukan yang empuk. Apakah dapat dibenarkan kiranya aku membenci kebandelan kalian sebagai imbangan kebencian kalian terhadap kenabianku ? Padahal aku ini tidak meminta imbalan (upah) dalam memberi peringatan dan petunjuk Tuhan itu kepada kalian baik berupa harta maupun kedudukan. Akan tetapi aku hanyalah mengharafkan imbalan pahala dari Allah Ta’ala semata.”
Perkataan Nabi Nuh a.s kali ini rupanya berpengaruh dari kalangan mereka. Walaupun demikian mereka masih mencari alasan untuk menolak ajaran Nuh itu, mereka berkata kepada Nabi Nuh a.s :
“Hai Nuh aku mau beriman kepadamu dengan syarat supaya pengikut-pengikutmu yang terdiri dari kaum fakir miskin dan orang-orang yang lemah itu supaya diusir darimu, dan kau juga harus jauh dari mereka.”
Nabi Nuh a.s. menjawab : “Aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang ber iman itu hanya karena ingin memenuhi permintaan kalian atau karena hanya penghinaan kalian terhadap mereka. Tidak, sekali lagi tidak, mereka adalah orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dan akan menemui Tuhan mereka dihari Kiamat dengan mendapatkan pahalanya. Adapun kalian, menurut pendapatku adalah orang-orang yang bodoh yang selama ini diselimuti oleh harta kekayaan dan kedudukan. Semua orang menurut panadangan Allah Ta’ala adalah sama, tidak ada yang dilebihkan dan tidak ada yang direndahkan, kecuali hanya dengan taqwanya. Kalau taqwanya, amal shalihnya itu banyak, maka dialah yang ditinggikan dan dimuliakan, akan tetapi kalau orang itu tiada taqwanya, dan jelek perbuatannya maka itulah orang yang sangat hina dan rendah dihadapan-Nya. Sekali lagi Allah Ta’ala tidak membedakan manusia-manusia itu berdasarkan kekayaan dan kedudukannya di dunia. Hai kaumku, ketahuilah ! Tidak ada seorangpun yang bisa menolong dan menyelamatkan dari siksa Allah Ta’ala, andaikan aku mengusir mereka sesudah mereka beriman. Apakah kalian tidak ingat bahwa mereka mempunyai Tuhan yang akan menolong mereka ? Kemudian, aku tidak pernah mengatakan bahwa aku pemilik gudang Allah Ta’ala yang bisa mempergunakan sesuatu menurut kehendakku. Aku tidak mengatakan bahwa aku tidak lebih mengetahui perkara yang ghaib, dan aku juga tidak mengatakan bahwa aku seorang malaikat sehingga mereka mau mengikutiku. Sebenarnya aku tidak lebih dari manusia biasa. Aku tidak mengatakan kepada orang-orang yang kamu hina bahwa Allah Ta’ala tidak mendatangkan keberuntngan kepada mereka karena mencari muka di hadapan kalian. Karena Allah sendiri Maha Mengetahui keikhlashan dirimu. Kalau aku lakukan perbuatan itu karena untuk memenuhi permitaan kalian, niscaya aku termasuk golongan yang tersesat.”
Sebagaimana firman Allah Ta’ala di dalam Al Qur’an :
“Berkatalah Nuh : Hai kaumku, bagaimana pendapatmu, jika aku ada mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku, dan diberinya aku rahmat dari sisi-Nya, tetapi rahmat itu disamarkan bagimu. Apa akan kami paksakankah kamu menerimanya padahal kamu tiada menyukainya ?”. Dan (dia berkata) : “Hai kaumku, tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhan mereka, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui.” Dan (dia berkata) “Hai kaumku, siapakah yang akan menolongku dari (adzab) Allah jika aku mengusir mereka. Maka tidaklah kamu mengambil pelajaran.” Dan aku tidak mengatakan kepada kamu (bahwa) : Aku mempunyai perbendaharaan rezki dan kekayaan dari  Allah dan aku tiada mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan : “Bahwa sesungguhnya aku malaikat” dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina dalam penglihatanmu : “Bahwa Allah akan mendatangkan kebaikkan kepada mereka” Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka : Sesungguhnya aku, kalau begitu benar-benar termasuk orang-orang yang zhalim.” {QS. Huud. 28-31}.
Da’wahnya Nabi Nuh a.s menunjukkan Kekuasaan Allah Ta’ala.
Dengan berbagai cara dan halnya Nabi Nuh a,s, berda’wah kepada kaumnya yang ia lewati, dengan khutbah, nasehat, dan diskusi. Dan kali ini ia berda’wah dengan menunjukkan kebesaran dan keagungan serta kekuasaan Allah Ta’ala yang ada dimuka bumi, dan bahkan kekuasaan Allah itu dapat disaksikan oleh kaumnya sendiri. Tidak lain dan tidak bukan supaya kaumnya itu menjadi orang yang ber Iman dan menyembah kepada Allah Ta’ala.
Dia (Nuh) berkata kepada kaumnya : Bagaimana kalian tidak merasa takut kepada keagungan dan kekuasaan Allah Ta’ala yang telah menciptakan kalian dari setetes air mani, kemudian menjadi segumpal darah, dari segumpal darah menjadi segumpal daging dan akhirnya dimasukkan Ruh kedalamnya, sehingga menjadi manusia sebagaimana yang kita saksikan sekarang ini. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
“Maa lakum laatar juwna lillahi wa qaaran.” Waqad khalaqakum ath-waran.”
“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah ?” Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian.”  {QS. Nuh. 13-14}.
Juga Nabi Nuh a.s. berda’wah kepada kaumnya dengan memandangkan pandangan mereka kepada kekuasaan Allah Ta’ala yang telah menciptakan bintang-bintang, bulan yang beredar melalui porosnya, demikian juga matahari yang selalu menerangi alam jagad raya ini. Dia menciptakan pula beraneka macam tanam-tanaman, buah-buahan, yang semuanya diperuntukkan bagi kepentingan kalian. Dan asal kita ini tiada, kemudian di jadikan oleh Allah Ta’ala untuk hidup didunia ini, lalu kita semua akan kembali ke tanah (mati). Dan sesudah mati dibangkitkan lagi untuk menuju hidup di alam akhirat. Di alam akhirat kita semua akan diminta pertanggungan jawaban atas amal perbuatan sewaktu di dunia.
Semuanya itu diciptakan  Allah Ta’ala  dengan sangat  mudahnya, seperti  mudahnya  Allah Ta’ala menciptakan bumi yang terbentang luas ini, agar kalian bisa mencari sarana yang sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan rezki dan ilma pengetahuan.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
“Tidakkah kamu perhatikan, bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat.”? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita.”? Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya.” Kemudian Dia mengembalikan kamu kedalam tanah dan mengeluarkan kamu (dari padanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya.” Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan.” Supaya kamu melalui jalan-jalan yang luas di bumi ini.”
 {QS. Nuh. 15-20}.

1 komentar:

  1. Assallamu Alaikum. Sesungguhnya jika kita ketahui akan ilmu kebenaran dari sesuatu apapun tidaklah apapun yang kamu katakan menjadi penentu akan kebenaran itu sendiri. Apalagi menyangkut ilmu akan Nabi bukanlah kebenaran itu dalil dari pada apa yang kamu pikirkan.Dan sesungguhnya kebenaran akan seorang Nabi tertulis didalam Al Qur'an, maka jika kamu diluar akan keislaman (non Islam) yang tidak mempercayainya. Dan perjalanan akan Nabi Nuh a.s tentang banjir itu sendiri belum diceritakan disini. Wassalam

    BalasHapus