Islam dan Para NabiNya
Da’wah Nabi Nuh
a.s dengan tanya jawab.
Nabi Nuh a.s tidak
putus asa dalam menyampaikan risalah kepada kaumnya, walaupun da’wahnya lewat
nasehat dan berkhutbah itu tidak mendapat sambutan yang baik, kini ia {Nuh}
telah melakukan dengan cara diskusi (tanya jawab), baik secara perseorangan
maupun secara kelompok. Dan keduanya saling mendatangkan bukti dan dalil yang
dapat di ajukan.
Pada suatu sa’at Nuh berkata kepada
kaumnya :
“Hai kaumku, bagaimana pendapatmu tentang status diriku di depan matamu,
andaikata aku mempunyai bukti yang kuat dari Tuhanku bahwa Dia memberiku
pangkat kenabian dan risalah dengan rahmat dan fadhilah-Nya ?. Saya kira yang
menutup diri kalian untuk menerima petunjuk Tuhan adalah kebodahan dan
tepedayanya dengan harta dan kedudukan yang empuk. Apakah dapat dibenarkan
kiranya aku membenci kebandelan kalian sebagai imbangan kebencian kalian
terhadap kenabianku ? Padahal aku ini tidak meminta imbalan (upah) dalam
memberi peringatan dan petunjuk Tuhan itu kepada kalian baik berupa harta
maupun kedudukan. Akan tetapi aku hanyalah mengharafkan imbalan pahala dari
Allah Ta’ala semata.”
Perkataan Nabi Nuh
a.s kali ini rupanya berpengaruh dari kalangan mereka. Walaupun demikian mereka
masih mencari alasan untuk menolak ajaran Nuh itu, mereka berkata kepada Nabi
Nuh a.s :
“Hai Nuh aku mau beriman kepadamu dengan syarat
supaya pengikut-pengikutmu yang terdiri dari kaum fakir miskin dan orang-orang
yang lemah itu supaya diusir darimu, dan kau juga harus jauh dari mereka.”
Nabi Nuh a.s. menjawab : “Aku sekali-kali tidak akan
mengusir orang-orang yang ber iman itu hanya karena ingin memenuhi permintaan
kalian atau karena hanya penghinaan kalian terhadap mereka. Tidak, sekali lagi
tidak, mereka adalah orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dan
akan menemui Tuhan mereka dihari Kiamat dengan mendapatkan pahalanya. Adapun
kalian, menurut pendapatku adalah orang-orang yang bodoh yang selama ini
diselimuti oleh harta kekayaan dan kedudukan. Semua orang menurut panadangan
Allah Ta’ala adalah sama, tidak ada yang dilebihkan dan tidak ada yang
direndahkan, kecuali hanya dengan taqwanya. Kalau taqwanya, amal shalihnya itu
banyak, maka dialah yang ditinggikan dan dimuliakan, akan tetapi kalau orang
itu tiada taqwanya, dan jelek perbuatannya maka itulah orang yang sangat hina
dan rendah dihadapan-Nya. Sekali lagi Allah Ta’ala tidak membedakan
manusia-manusia itu berdasarkan kekayaan dan kedudukannya di dunia. Hai kaumku,
ketahuilah ! Tidak ada seorangpun yang bisa menolong dan menyelamatkan dari
siksa Allah Ta’ala, andaikan aku mengusir mereka sesudah mereka beriman. Apakah
kalian tidak ingat bahwa mereka mempunyai Tuhan yang akan menolong mereka ?
Kemudian, aku tidak pernah mengatakan bahwa aku pemilik gudang Allah Ta’ala
yang bisa mempergunakan sesuatu menurut kehendakku. Aku tidak mengatakan bahwa
aku tidak lebih mengetahui perkara yang ghaib, dan aku juga tidak mengatakan
bahwa aku seorang malaikat sehingga mereka mau mengikutiku. Sebenarnya aku
tidak lebih dari manusia biasa. Aku tidak mengatakan kepada orang-orang yang
kamu hina bahwa Allah Ta’ala tidak mendatangkan keberuntngan kepada mereka
karena mencari muka di hadapan kalian. Karena Allah sendiri Maha Mengetahui
keikhlashan dirimu. Kalau aku lakukan perbuatan itu karena untuk memenuhi
permitaan kalian, niscaya aku termasuk golongan yang tersesat.”
Sebagaimana firman Allah Ta’ala di dalam Al Qur’an :
“Berkatalah Nuh : Hai kaumku, bagaimana pendapatmu,
jika aku ada mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku, dan diberinya aku rahmat
dari sisi-Nya, tetapi rahmat itu disamarkan bagimu. Apa akan kami paksakankah
kamu menerimanya padahal kamu tiada menyukainya ?”. Dan (dia berkata) : “Hai
kaumku, tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku.
Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang
yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhan mereka, akan
tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui.” Dan (dia berkata)
“Hai kaumku, siapakah yang akan menolongku dari (adzab) Allah jika aku mengusir
mereka. Maka tidaklah kamu mengambil pelajaran.” Dan aku tidak mengatakan
kepada kamu (bahwa) : Aku mempunyai perbendaharaan rezki dan kekayaan dari Allah dan aku tiada mengetahui yang ghaib dan
tidak (pula) aku mengatakan : “Bahwa sesungguhnya aku malaikat” dan tidak juga
aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina dalam penglihatanmu :
“Bahwa Allah akan mendatangkan kebaikkan kepada mereka” Allah lebih mengetahui
apa yang ada pada diri mereka : Sesungguhnya aku, kalau begitu benar-benar
termasuk orang-orang yang zhalim.” {QS. Huud. 28-31}.
Da’wahnya Nabi
Nuh a.s menunjukkan Kekuasaan Allah Ta’ala.
Dengan berbagai cara dan halnya Nabi Nuh a,s, berda’wah
kepada kaumnya yang ia lewati, dengan khutbah, nasehat, dan diskusi. Dan kali
ini ia berda’wah dengan menunjukkan kebesaran dan keagungan serta kekuasaan
Allah Ta’ala yang ada dimuka bumi, dan bahkan kekuasaan Allah itu dapat
disaksikan oleh kaumnya sendiri. Tidak lain dan tidak bukan supaya kaumnya itu
menjadi orang yang ber Iman dan menyembah kepada Allah Ta’ala.
Dia (Nuh) berkata kepada kaumnya : Bagaimana kalian
tidak merasa takut kepada keagungan dan kekuasaan Allah Ta’ala yang telah
menciptakan kalian dari setetes air mani, kemudian menjadi segumpal darah, dari
segumpal darah menjadi segumpal daging dan akhirnya dimasukkan Ruh kedalamnya,
sehingga menjadi manusia sebagaimana yang kita saksikan sekarang ini.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
“Maa lakum laatar
juwna lillahi wa qaaran.” Waqad khalaqakum ath-waran.”
“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah ?”
Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan
kejadian.” {QS. Nuh. 13-14}.
Juga Nabi Nuh a.s. berda’wah kepada kaumnya dengan
memandangkan pandangan mereka kepada kekuasaan Allah Ta’ala yang telah
menciptakan bintang-bintang, bulan yang beredar melalui porosnya, demikian juga
matahari yang selalu menerangi alam jagad raya ini. Dia menciptakan pula
beraneka macam tanam-tanaman, buah-buahan, yang semuanya diperuntukkan bagi
kepentingan kalian. Dan asal kita ini tiada, kemudian di jadikan oleh Allah Ta’ala
untuk hidup didunia ini, lalu kita semua akan kembali ke tanah (mati). Dan
sesudah mati dibangkitkan lagi untuk menuju hidup di alam akhirat. Di alam
akhirat kita semua akan diminta pertanggungan jawaban atas amal perbuatan
sewaktu di dunia.
Semuanya itu diciptakan Allah Ta’ala
dengan sangat mudahnya,
seperti mudahnya Allah Ta’ala menciptakan bumi yang terbentang
luas ini, agar kalian bisa mencari sarana yang sebanyak-banyaknya untuk
mendapatkan rezki dan ilma pengetahuan.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
“Tidakkah kamu perhatikan, bagaimana Allah telah
menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat.”? Dan Allah menciptakan padanya
bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita.”? Dan Allah
menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya.” Kemudian Dia mengembalikan
kamu kedalam tanah dan mengeluarkan kamu (dari padanya pada hari kiamat) dengan
sebenar-benarnya.” Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan.” Supaya
kamu melalui jalan-jalan yang luas di bumi ini.”
{QS. Nuh. 15-20}.
Assallamu Alaikum. Sesungguhnya jika kita ketahui akan ilmu kebenaran dari sesuatu apapun tidaklah apapun yang kamu katakan menjadi penentu akan kebenaran itu sendiri. Apalagi menyangkut ilmu akan Nabi bukanlah kebenaran itu dalil dari pada apa yang kamu pikirkan.Dan sesungguhnya kebenaran akan seorang Nabi tertulis didalam Al Qur'an, maka jika kamu diluar akan keislaman (non Islam) yang tidak mempercayainya. Dan perjalanan akan Nabi Nuh a.s tentang banjir itu sendiri belum diceritakan disini. Wassalam
BalasHapus