Sabtu, 05 Mei 2012

Nabi Idris a.s.

                                                                                          
                                                                           
                                                        Islam  dan  Para  NabiNya 
Nabi Idris Alaiyhi Sallam.
Nama lengkapnya Nabi Idris a.s. adalah Idris bin Yarid bin M Mahlail bin Qainan bin Anusy bin Adam a.s.
Idris a.s. adalah menduduki Nabi yang kedua sesudah Nabi Adam a.s. Al Qur’an tidak menceritakan panjand lebar tentang kehdidupan perjalanan Nabi Idris a.s. akan tetapi telah menyebutkan tentang kedudukan Nabi Idris a.s. ini adalah seorang yang telah diangkat derajatnya oleh Allah Ta’ala dengan derajat yang sangat luhur. Nabi Idris a.s. adalah orang yang pertama sekali pandai dan mengajarkan kepada dunia ini tentang jahit-menjahit, menata pakaian, ilmu falaq, tulis-menulis dengan pena. Nabi Idris a.s. memberi peranan yang sangat penting / berguna kepada dunia sekarang ini tentang bentuk pakaian, penjahitan, ilmu falaq, ilmu alam, dan ilmu tulis-menulis (persurat kabaran) dan sebagainya.
Dalam suatu riwayat telah diceritakan ketika Nabi Muhammad s.a.w. menghadap kepada Allah Rabbul ‘Izzati sewatu naik kelangit, menerima perintah shalaht, beliau bertemu dengan Nabi Idris a.s. dilangit tingkat keempat.
Dalam Al Qur’an disebutkan tentang Nabi Idris a.s. :
“Wadzkur fil-kitaabi idriysa, innahu kana shiddiyqann-nabiyyan”.{56}”Warafa’naahu makanan ‘alayyan”.{57}
“Dan ceritakanlah {kepada mereka, kisah} Idris di dalam Al Qur’an. Sesungguhnya Ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi.{56} Dan Kami telah mengangkatnya kemartabat yang tinggi”.{57} {QS. Maryam. 56-57}.
Al Qur’an memberi shifat sabar, benar dan martabat yang tinggi. Berdasarkan ringkasan dari beberapa riwayat tentang Nabi Idris a.s. ini ternyata Ia orang pertama menerima wahyu dari malaikat Jibril untuk memberi petunjuk kepada keturunan Qabil agar mereka bershifat sabar akan kedurhakaan dan kekufurannya dan bertaubat kepada Allah Ta’ala serta bertingkah laku sesuai dengan syari’aht. Al Qur’an tidak menerangkan secara mendetail tentang kenabian dan kehidupan Nabi Idris a.s.
Dalam kitab Tarikhul Hukama’. Disana diterangkan agak panjang dan jelas tentang riwayat kenabian dan kehidupan Nabi Idris a.s. Inilah sebagian isi kitab tersebut :
“Para Hukama” berselisih pendapat tentang tempat kelahiran dan dibesarkannya Nabi Idris a.s. Sekelompok dari mereka berpendapat bahwa Nabi Idris a.s dilahirkan di Mesir, di daerah Munaf. Ia diberi nama Kurmus Al Haramisah, berasal dari bahasa Yunani Armia, kemudian di istilahkan menjadi Hurmus {Arab}. Menurut orang Ibrani Ia bernama Khunukh yang arahkan menjadi Ukhnukh. Kemudian Allah Ta’ala di dalam Al Qur’an menyebutkan Idris. Hurmus {Idris} meninggalkan Mesir berkelana mengelilingi dunia, kemudian kembali lagi ke Mesir, dan Allah Ta’ala mengangkatnya menjadi Rasul ketika berumur {83} delapan puluh tiga tahun.
Kelompok lain mengatakan bahwa Nabi Idris a.s. dilahirkan dan dibesarkan di Bobilonia. Pada waktu kecil Ia belajar ilmu kepada Syit {Syis} putra Nabi Adam a.s. setelah dewasa, Allah Ta’ala menurunkan wahyu ke Nabian kepadanya. Kemudian Ia menjalankan tugas kenabiannya melarang anak cucuk Adam untuk membuat kerusakan, keonaran serta menentang ajaran Adam Syits. Pengikutnya hanya sedikit, karena kebanyakan orang menentangnya sehingga Ia bersama pengikutnya meninggalkan Mesir sampai wafat.
Nabi Idris a.s. dan pengikutnya menyerukan makhluq-makhluq Allah untuk melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar dan tha’at kepada Allah Ta’ala sebagaimana dikaatakan :
“Bahwa dia {Idris} menyeru untuk memeluk, agama Allah bertauhid, beribadaht kepada Allah, membebaskan diri dari adzab Allah di akhirat dengan beramal shalih di dunia, menganjurkan zuhud {hidup sederhana} di dunia serta berlaku adil terhadap sesamanya, dan menganjurkan berjihad untuk melawan musuh-musuh agama mereka dan memerintahkan mengeluarkan zakat harta benda untuk membantu orang-orang lemah”.
Inti sari dari seluruh ajaran Nabi Idris a.s. adalah, bahwa iman kepada Allah Ta’ala bisa mewariskan keberuntungan. Dan tujuan dari shalat mayit adalah penghormatan menurut pandangan pribadinya, dan yang memberi syafa’at hanyalah Allah Ta’ala sesuai dengan amal shalihnya.
Di antara perkataan-perkataannya :
· Seseorang tidak mungkin mensyukuri ni’mat Allah Ta’ala seimbang dengan ni’mat yang diberikan kepadanya.
·   Apabila Allah Ta’ala menyeru kamu sekalian, maka berniatlah dengan ikhlash, kerjakan puasa, shalaht dan semua perintah.
·     Janganlah berbuat dengki kepada orang lain yang bernasib baik karena sebenarnya harta yang mereka miliki itu hanyalah sedikit, sedangkan Allah Ta’ala yang Maha Kaya.
· Menumpuk harta secara berlebih-lebihan sebenarnya tidak memberi manfa’at sama sekali terhadap dirinya.
·     Kehidupan orang itu hendaknya mengandung hikmah.
Itulah beberapa keterangan yang terdapat dalam kitab Tarikhul Hukam’. Dan selibihnya Allah Ta’ala yang Maha Mengetahui.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar