Selasa, 08 Mei 2012

Nabi Nuh Alayhi Sallam.

                                                                                             
                                                                             
                                                         Islam  dan  Para  NabiNya 


Nabi Nuh Alaiyhi Sallam.
Kenabian Nuh a.s.
Nasabnya Nuh ialah Nuh bin Lamik bin Matu Syalih bin Akhnukh {Idris a.s.}.
Menurut Al Qur’an, usia Nabi Nuh a.s. ialah 950 tahun. Nabi Nuh diutus Allah Ta’ala menjadi Nabi dan Rasul ketika berumur 480 tahun, hingga wafatnya, yaitu dalam masa 500 tahun atau 5 abad lamanya.
Berkata Ibnu Kalby dari Ibnu Shalih, bahwa menurut Ibnu ‘Abbas r.a. antara Adam a.s. dan Nuh a.s adalah (12) abad lamanya. Dan di abad (12) sesudah Adam a.s. seluruh manusia banyak yang menyembah kepada patung-patung berhala-berhala. Diriwayatkan oleh Athiyah dari ibnu Abbas, bahwa manusia di sa’at wafatnya Adam, semuanya baik dan beriman : tetapi kemudian hari seluruhnya hampir menjadi seperti binatang-binatang yang tak punya ‘aqal. Banyak yang sudah menyimpang dari ajaran Nabi Adam a.s.
Oleh karena demikianlah Allah Ta’ala mengutus Nabi dan Rasul untuk membimbing mereka, dengan memberikan khabar gembira dan ancaman. Nabi pertama yang diutus oleh Allah untuk memberikan khabar gembira dan berita ancaman itu adalah Nabi Idris a.s. kira-kira dalam abad ke 6 sesudah Adam. Tetapi ke Nabian Idris itu mereka dustakan, dan mereka cemoohkan, hingga Nabi Idris a.s. kembali kepada Allah Ta’ala.
Sepeninggal Nabi Idris a.s. di antara manusia-manusia itu ada yang menjadi kafir dan jahat kelakuannya seperti binatang, dan ada juga orang baik-baik, shalih, baik prilakunya, ucapannya dan tindakannya sehingga mereka itu dicintai oleh orang-orang sekitar mereka itu. Di antaranya yang sangat masyhur namanya ialah : Wad, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nashr. Menurut Hisyam, kelima orang tersebut mati serentak berturut-turut dalam satu bulan, sehingga menyebabkan kegemparan yang amat hebat bagi orang-orang yang mencintainya. Kelima orang baik tersebut walaupun sudah meninggal, tetapi dibuatkan gambar-gambar dan patung-patung yang menyerupai mereka, dengan tujuan sekedar kenang-kenangan dan pelepas kerinduan. Patung-patung itu setiap hari mereka datangi, mereka hormati dan kadang-kadang pula dengan mengucapkan kata-kata tertentu dihadapan mereka itu. Itulah tindakan dari orang-orang yang mencintai kelima orang tersebut. Di berinya nama patung Wad, Suwa, Yaghuts, Ya’uq dan Nashr.
Akhirnya kecintaan dan penghormatan terhadap kelima orang tersebut sampai kepada turun-temurun sampai pada anak cucu mereka. Sebagai puncak klimaknya, mereka orang-orang baik-baik itu dihormati, dipuja, dimintai syafa’at, dimintai suatu yang dihajatkanan. Karena anggapan mereka bahwa orang baik-baik itu {Wad, Suwa, Yaghuts, Ya’uq dan Nashr} itu adalah Tuhan. Begitulah seterusnya, i’tiqad yang demikian semakin mendalam. Ajaran yang dibawa Nabi Adam a.s. dan Nabi Idris a.s. sudah mereka lupakan, sudah tidak lagi menyembah Allah Ta’ala yang wujudnya tidak ada dihadapan mereka {menurut anggapan mereka}. Kini telah berganti dengan menyembah patung dan berhala yang bereda dihadapan mereka.
Nabi Nuh a.s memberantas patung dan berhala
Melihat keadaan yang demikian bejat akhlak dan moralnya itu, Allah Ta’ala telah mengirim ke tengah-tengah mereka seorang Nabi utusan yang membawa kebenaran yaitu Nabi Nuh a.s. Dengan sabarnya Nuh menyampaikan ajaran-ajaran Tuhan ditengah-tengah masyarakat yang sedang bejat itu dengan kata-kata fasih dan penuh hikmah. Disuruhnya mereka untuk meninggalkan penyembahan kepada patung-patung dan behala-berhala yang terbuat dari batu itu. Karena batu-batu itu adalah suatu benda mati yang tidak dapat dimintai bantuan, pertolongan dan syafa’at. Di luruskannya i’tiqad dan keyakinan mereka kepada Allah Ta’ala, yang telah menjadikan alam seisinya, bahkan yang menjadikan kamu dari keturunan Adam. Oleh karena itu wajiblah kita menyembah kepada Allah Yang Maha Esa. Kuasa atas segala-galanya. Dan juga Allah Ta’ala yang menjadikan manusia-manusia yang selama ini kamu sembah-sembah dan kamu puja dalam bentuk berhala itu.
Sebagaimana Al Qur’an menyebutkan tentang berhala tersebut :
“Wa qaaluw laatadza-runna alihatakum walaa tatdza-runna waddan walaa sua’an walaa yaghutsa waya’uqa wa nasran. Wa qad adhalluw katsiyran, walaa tazidizh-zhalimiyna illadhalalan.”
“Dan mereka berkata : Janganlah kamu meninggalkan {penyembahan} tuhan-tuhanmu dan jangan pula meninggalkan {penyembahan} wadd, dan jangan pula suwaa, yaghuts, dan nasr. Dan sesudahnya mereka telah menyesatkan kebanyakan {manusia}, dan janganlah Engkau tambahkan lagi orang-orang yang zhalim itu selain kesesatan.” {QS. Nuh. 23-24}.
Nabi Nuh a.s. berda’wah.
Nabi Nuh a.s. menghadapi kaumnya yang sama-sama ingkar kepada ajaran-ajaran Nabi yang terdahulu, sama menyembah patung dan berhala. Bukan sekali dua kali, bikan waktu sebulan atau dua bulan, bahkan beratus tahun. Hampir seluruh umur yang diberikan Allah Ta’ala kepada Nabi Nuh a.s yang lamanya 950 tahun itu, dipakainya dengan segiat-giatnya untuk meluruskan keyaqinan dan i’tiqadnya kepada Allah Ta’ala yang berhak untuk disembah dan dipuja.
“Walaqad arsalnaa nuwhhan ilaa qawmihi falabitsa fihiym alfa sanahtin illa khamsiyna ‘aaman”. {“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun.”}{QS. Al Ankabut. 14}.
Akan tetapi waktu yang begitu lama itu hanya mendapatkan pengikut hanya 70 atau 80 orang, yang semuanya terdiri dari orang-orang yang lemah dan melarat. Padahal kaumnya yang ada pada sa’at itu sangat banyak sekali jumlahnya. Jadi tidak sesuai antara yang ikut dengan dengan ajakannya orang yang ingkar.
Pada suatu ketika Nuh berkata kepada kaumnya : “Sesungguhnya aku ini ini adalah orang yang menyampaikan ancaman Allah Ta’ala dan menerangkan jalan yang menuju keselamatan kepada kalian. Oleh karena itulah beribadahtlah kalian hanya kepada Allah Ta’ala saja, dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatu yang lain, karena saya mengkhawatirkan atas kalian, kalau-kalau adzab Allah Ta’ala itu akan menimpa kalian, yang disebabkan karena tidak mau menyembah kepada-Nya dan menyekutukan-Nya.”
Dan Nuh berkata kepada kaumnya lagi : “Sesungguhnya jika kalian tha’at kepada Allah dan menjauhi keburukan, niscaya Allah Ta’ala akan mengampuni dosa-dosa kalian yang telah lalu dan membebaskan kalian menikmati kenikmatan dunia sampai batas waktu yang telah ditentukan Allah Ta’ala. Akan tetapi kalian berbuat ma’siaht terhadap Tuhan, maka Tuhan tak akan menangguhkan umur kalian untuk hidup dibumi ini, dan sebentar lagi adzab akan menimpa diri kalian dengan tiba-tiba.”
Di dalam Al Qur’an telah dinyatakan :
“Qaala yaaqawmi inni lakum nadziyrunm-mubiynun.”{2} “Ani’budullaha wat-taquwhu wa-athi’un.”{3} “Yaghfir-lakumm-min dzunuw bikum wayu-akhkhirkum ilaa ajalim-musamman inna ajalallahi idzaa jaa-a laa yu-akhkharu law kuntum ta’lamuna.”(4).
“Nuh berkata : “Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu. (Yaitu) sembahlah Allah, bertaqwalah kepadan-Nya dan ta’atlah kepadan-Nya. Niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui.”
Perkataan kaumnya Nabi Nuh a.s.
Ucapan dan nasehat Nabi Nuh kepada kaumnya itu tidak mendapat sambutan yang baik, akan tetapi mereka bertambah tidak karuan kata-katanya, tidak menghiraukan akan nasehat-nasehat, sekalipun nasehat yang disampaikan olrh Nabi Nuh a.s. kepada kaumnya itu datangnya dari Allah Ta’ala. Mereka itu mengingkari akan kenabian Nabi Nuh a.s. dengan beberapa alasan sebagai berikut :
·     Pertama : Nuh itu adalah seorang manusia biasa yang membutuhkan makan dan minum seperti kita ini, bagaimana mungkin manusia biasa menjadi Nabi ? Nabi menurut pandangan dan anggapan mereka adalah seorang malaikat.
·    Kedua : Pengikut-pengikut Nuh itu adalah orang-orang yang melarat dan hina, kaum fakir dan miskin, kaum pekerja.
· Ketiga : Mereka menuduh Nuh dan para pengikutnya sebagai orang-orang yang bohong. Tetapi tuduhan mereka itu hanya berdasarkan sangkaan tanpa bukti.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalm Al Qur’an :
“Maka berkatalah pemimpin-pemimpin mereka yang kafir dari kaumnya : “Kami melihat kamu, melainkan {sebagai} seorang manusia {biasa} seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang pendusta.” {QS. Huud. 27}
Juga pada ayat yang lain Allah Ta’ala menggambarkan kesombongan dan keingkaran kaum Nuh terhadap ajaran yang dibawanya serta mencela Nuh sebagai pihak yang sesat.
“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata : “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya” Sesungguhnya {kalau kamu tidak menyembah Allah}, aku takut kamu akan ditimpa adzab hari yang besar {hari kiamat}.(59). ”Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata :”Sesungguhnya kami memandang kamu dalam kesesatan yang nyata.”(60). “Nuh menjawab : “Hai kaumku, tak ada kesesatan sedikitpun tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam.”(61}. “Aku sampaikan kepadamu amanaht-amanaht Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.”(62) “Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa telah datang kepada kamu peringatan dari Tuhanmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu dan agar kamu bertaqwa dan supaya kamu mendapat rahmat.” {QS. Al A’raaf. 59-63}.
Itulah di antara da’wahnya Nabi Nuh a.s. kepada kaumnya, siang hari dia selalu memberikan nasehat untuk menyampaikan perintah dan peringatan Allah Ta’ala yang disampaikan kepadanya, dengan tujuan agar hidup dan kehidupan kaumnya itu selamat, sejahtera dan jauh dari siksa Allah Ta’ala.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar